Ringkasan: Sebuah studi terpraregistrasi yang terbit 28 Oktober 2026 menguji dilema moral dengan uang sungguhan. Dari 321 orang dewasa Amerika, 222 orang (69,2%) rela mencabut satu dolar dari seorang asing agar lima orang lain masing-masing menerima satu dolar. Yang memprediksi pilihan itu bukan kuesioner nilai moral, melainkan kemampuan bernalar dan keterbukaan pikiran yang diukur 17 bulan sebelumnya.
Apa Itu Studi Dilema Moral dengan Uang Nyata, 69 Persen Pilih Untungkan Banyak Orang?

Ini adalah eksperimen psikologi yang mengganti skenario trolley hipotetis dengan keputusan berhadiah uang sungguhan. Dalam studi Vurgun dkk. (2026), sekitar 69 persen peserta memilih mengalihkan satu dolar dari satu orang ke lima orang lain. Tidak ada nyawa yang dipertaruhkan, tetapi konsekuensinya nyata.
Studi ini dipublikasikan di jurnal Judgment and Decision Making dan dibahas penulis seniornya, Onurcan Yilmaz, di Psychology Today. Media Indonesia seperti JawaPos juga melaporkan temuannya pada akhir Oktober 2026.
Artikel ini membedah desain eksperimen, angka-angka utamanya, apa yang memprediksi pilihan peserta, dan batasan yang perlu Anda ingat sebelum mengutip angka 69 persen.
Dari Trolley Problem ke Satu Dolar: Mengapa Peneliti Beralih ke Uang Nyata

Dilema trolley adalah skenario klasik: Anda bisa mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan lima. Skenario ini lama dipakai untuk menguji dua kecenderungan moral. Yang pertama berbasis aturan, misalnya “jangan mencelakai orang”. Yang kedua berbasis hasil, yaitu memilih manfaat terbesar bagi banyak orang.
Model dual-process dari Joshua Greene (2001) menjadi kerangka utamanya. Respons cepat dan emosional condong ke aturan. Pemikiran yang lebih lambat dan sengaja condong ke hasil terbaik bagi banyak orang.
Masalahnya ada dua, menurut pembahasan para penulis studi ini.
Pertama, hampir tidak ada orang yang pernah benar-benar menghadapi dilema trolley. Jawaban “saya akan mendorongnya” hanyalah pernyataan, bukan perilaku. Kedua, orang yang menjawab akan mendorong orang dari jembatan cenderung memiliki skor sifat psikopati lebih tinggi (Bartels & Pizarro, 2011). Jawaban itu bisa mencerminkan lemahnya reaksi terhadap penderitaan, bukan kepedulian pada lima korban.
Dries Bostyn dan rekan (2019) menawarkan jalan keluar: dilema trolley versi uang. Dalam data mereka, pilihan mengambil dari satu orang untuk memberi lima orang tidak berkaitan dengan psikopati primer. Studi 2026 ini memakai paradigma itu, dengan tambahan penting: tanpa penipuan dan dengan jeda waktu panjang.
Bagaimana Eksperimen Berjalan, Langkah demi Langkah

Berikut urutan tugas yang dihadapi peserta pada tahap kedua, menurut deskripsi di artikel jurnal:
- Peserta dikelompokkan dengan enam peserta pasif. Mereka diberi tahu bahwa hanya mereka yang memutuskan.
- Peserta menerima $1 apa pun pilihannya. Keputusan tidak memengaruhi bonus mereka sendiri.
- Satu peserta pasif (C1) sudah ditetapkan menerima $1. Lima lainnya (C2–C6) tidak menerima apa-apa.
- Peserta ditawari susunan alternatif. C1 kehilangan $1-nya, dan lima orang lain masing-masing menerima $1.
- Peserta memilih: mengubah susunan atau membiarkannya.
- Satu tugas acak menentukan bonus. Peserta diberi tahu bahwa satu tugas yang dipilih acak menentukan pembayaran, sehingga keputusan bersifat nyata dan berkonsekuensi.
Memilih susunan alternatif dikodekan sebagai perilaku utilitarian. Tidak mengubah apa pun dikodekan sebagai pilihan non-utilitarian. Para penulis sengaja menyebutnya “dilema moral moneter” karena tidak ada kerugian fisik dan tidak ada pemakaian orang sebagai alat seperti pada dilema jembatan.
Siapa Pesertanya dan Bagaimana Datanya Dikumpulkan

Studi ini bagian dari proyek longitudinal tentang keyakinan moral penganut agama dan nonpenganut. Peserta direkrut lewat platform Prolific. Rancangannya memberi gambaran mengapa angka 69 persen perlu dibaca bersama konteks sampelnya.
| Aspek | Tahap 1 | Tahap 2 (17 bulan kemudian) |
| Jumlah peserta | 1.200 orang dewasa AS | 321 orang (setelah satu duplikat dikeluarkan dari 322 respons) |
| Perempuan | 575 | 161 |
| Usia rata-rata | 39,9 tahun | 47,1 tahun |
| Tugas utama | Tes penalaran, gaya berpikir, kuesioner utilitarianisme | Dilema uang nyata dan penilaian alasan |
| Pembayaran | $2 untuk kelengkapan survei | Dasar $2 plus bonus dari satu tugas acak |
Sumber: Vurgun dkk. (2026), Judgment and Decision Making, 21, e30.
Komposisi agama di tahap kedua hampir seimbang: 49,5% Kristen, 49,3% nonpenganut (27,1% ateis dan 21,1% agnostik), dan 1,2% Yahudi atau lainnya. Keseimbangan ini disengaja lewat penyaringan Prolific, bukan cerminan populasi Amerika.
Hasil Utama: 222 dari 321 Orang Memilih Menguntungkan Lima Orang

Dari 321 peserta, 222 memilih opsi utilitarian. Itu setara 69,2%, dan angka ini yang dibulatkan menjadi “69 persen” dalam laporan media.
Satu catatan penting dari para penulis: angka ini tidak bisa diartikan sebagai persentase orang Amerika. Sampelnya dipilih seimbang berdasarkan keyakinan, gender, dan status sosial ekonomi, lalu hanya terdiri dari mereka yang kembali setelah 17 bulan.
Studi lain pada dilema hipotetis menunjukkan betapa beragam angka bisa muncul. Pada sampel mahasiswa Venezuela dalam studi yang terbit di PubMed Central, 74 dari 88 orang (84,1%) memilih menarik tuas dalam trolley klasik. Namun hanya 16 dari 88 (18,2%) yang mendukung mendorong orang dari jembatan. Bentuk dilema dan jenis sampel mengubah hasil secara dramatis.
Apa yang Memprediksi Pilihan Itu?

Peserta sudah mengerjakan serangkaian tes 17 bulan sebelum tugas uang. Tiga kelompok pengukuran terbukti berhubungan dengan pilihan mereka kemudian.
| Pengukuran di Tahap 1 | Hubungan dengan pilihan utilitarian | Keterangan |
| Cognitive Performance Test (CPT), 5 soal refleksi | r = 0,13; OR = 1,19 (CI 95% 1,03–1,38) | Uji praregistrasi, efek kecil tapi signifikan |
| Matriks Raven (3 soal penalaran pola) | r = 0,26 | Lebih kuat dari CPT |
| Pemikiran terbuka aktif (actively open-minded thinking) | r = 0,21 | Kesediaan mengubah keyakinan karena bukti |
| Pemikiran tertutup | r = −0,12 | Arah sebaliknya |
| Preferensi berpikir intuitif | r = −0,14 | Arah sebaliknya |
Sumber: Vurgun dkk. (2026), Tabel 2 dan bagian hasil.
CPT berisi soal bergaya “bola dan pemukul” yang memiliki jawaban menggoda tapi keliru. Tiap tambahan jawaban benar (dari lima soal) menaikkan peluang pilihan utilitarian sekitar 19 persen, seperti dijelaskan Yilmaz di Psychology Today.
Efeknya nyata tapi kecil. Model dengan CPT mencapai akurasi klasifikasi 69,2%, sama dengan tebakan berdasarkan tingkat dasar. Perbaikan model terlihat pada uji rasio kemungkinan (χ²(1) = 5,77; p = 0,016) dan AUC 0,585.
Penalaran dan keterbukaan mengalahkan soal refleksi
Ketika CPT, Raven, dan pemikiran terbuka dimasukkan ke satu model, hasilnya bergeser. Skor CPT tidak lagi unik (OR = 0,96; p = 0,653). Matriks Raven (OR = 1,73) dan pemikiran terbuka (OR = 1,41) tetap signifikan.
Para penulis menafsirkannya hati-hati. Pilihan utilitarian tampaknya bukan hanya soal kebiasaan mengoreksi jawaban intuitif. Kemampuan bernalar dan kemauan berpikir terbuka ikut menentukan. Mereka juga mengingatkan bahwa Raven dan refleksi sulit dipisahkan, karena soal Raven pun punya pengecoh yang menggoda.
Kuesioner Utilitarianisme Gagal Memprediksi Perilaku

Temuan paling mengejutkan menyangkut Oxford Utilitarianism Scale (OUS), kuesioner yang banyak dipakai untuk mengukur sikap utilitarian. Skala ini punya dua dimensi: kepedulian setara pada kesejahteraan semua orang (impartial beneficence) dan penerimaan merugikan satu orang demi manfaat lebih besar (instrumental harm).
Keduanya tidak memprediksi pilihan di tugas uang nyata.
| Dimensi OUS | Korelasi dengan pilihan utilitarian | Nilai p |
| Impartial beneficence | r = −0,08 | 0,13 |
| Instrumental harm | r = −0,05 | 0,35 |
Dua hipotesis praregistrasi tentang OUS tidak terdukung. Lebih jauh, skor kedua dimensi cenderung naik seiring preferensi berpikir intuitif dan turun seiring refleksi. Dimensi kepedulian juga berkorelasi dengan alasan yang bertolak belakang, termasuk alasan berbasis aturan. Para penulis menilai ini menimbulkan keraguan pada validitas konstruk skala tersebut.
Yilmaz merangkumnya dengan sederhana di Psychology Today: mengatakan peduli pada semua orang tidak sama dengan mengambil satu dolar dari seseorang untuk membuktikannya.
Skala itu tidak otomatis tak berguna. Namun hasil ini mengingatkan bahwa laporan diri tentang nilai moral perlu diuji terhadap perilaku.
Peran Keyakinan Agama: Temuan Eksploratif yang Menarik

Bagian ini bukan uji praregistrasi, jadi statusnya petunjuk, bukan kesimpulan.
Religiositas berkorelasi negatif dengan perilaku utilitarian (r = −0,17; p = 0,003). Namun efek langsungnya hilang ketika interaksi dengan refleksi dimasukkan ke model. Yang muncul adalah interaksi: hubungan antara refleksi dan pilihan utilitarian melemah seiring naiknya religiositas (OR interaksi = 0,95; CI 95% 0,914–0,992; p = 0,021).
Dengan kata lain, di kalangan nonpenganut, orang yang lebih reflektif jauh lebih mungkin memilih manfaat bagi lima orang. Di kalangan penganut, refleksi hampir tidak membedakan pilihan.
Penjelasan yang diajukan para penulis berkaitan dengan norma epistemik. Refleksi bukan “mesin kebenaran”. Ia bekerja menurut standar penalaran yang diserap seseorang. Bagi penganut yang memandang otoritas ilahi sebagai sumber kebenaran moral, berpikir lebih lama bisa memperkuat aturan “jangan mengambil milik orang lain”. Penulis mengutip bahwa refleksi dapat dipakai untuk menopang kesimpulan yang sudah disukai, bukan untuk menguji kesimpulan itu.
Ini perlu uji langsung dan replikasi di budaya lain, termasuk konteks yang lebih religius daripada sampel Amerika ini.
Alasan di Balik Pilihan: Utilitarian Punya Satu Motif, Non-Utilitarian Banyak
Setelah memilih, peserta menilai seberapa besar tiap alasan berperan, dengan skala 1–5. Hasilnya memberi validasi bahwa tugas uang benar-benar memancing pertimbangan moral.
| Alasan yang dinilai | Korelasi dengan pilihan utilitarian |
| Utilitarian (“tindakan moral menjamin kesejahteraan sebanyak mungkin orang”) | r = 0,24 |
| Deontologis (melukai orang tak bersalah melanggar aturan moral) | r = −0,28 |
| Fatalistik (tidak boleh mengganggu jalannya peristiwa alami) | r = −0,37 |
| Etika kebajikan | r = −0,24 |
| Amoral (alasan moral tidak berperan) | r = −0,20 |
| Aversi ketimpangan | tidak signifikan |
Sumber: Vurgun dkk. (2026), Tabel 3.
Dua pola menonjol. Pertama, hanya alasan utilitarian yang berhubungan positif dengan pilihan utilitarian. Kedua, aversi ketimpangan tidak terkait, sehingga motif “agar lebih adil” tampaknya tidak menjelaskan pilihan mengalihkan uang.
Sebaliknya, memilih tidak mengubah apa-apa berhubungan dengan beragam alasan sekaligus: aturan, kebajikan, fatalisme, bahkan sikap tidak berbasis moral. Para penulis menyimpulkan bahwa label “deontologis” saja tidak cukup untuk menjelaskan sikap tidak mau mencampuri.
Bukan Soal Impulsif: Waktu Keputusan
Apakah orang yang memilih utilitarian hanya menekan tombol sembarangan? Data waktu respons menunjukkan sebaliknya.
Peserta yang memilih opsi utilitarian butuh waktu lebih lama daripada yang tidak mengubah susunan (t(136,98) = 3,06; p = 0,003; rata-rata log waktu 4,01 berbanding 3,67). Dalam studi terpisah dengan 1.547 peserta, pilihan utilitarian juga tidak berkorelasi dengan klaim “saya memutuskan secara acak”.
Hasil ini menyiratkan bahwa pilihan utilitarian dalam tugas ini lebih mirip hasil pertimbangan daripada refleks.
7 Temuan Kunci Studi Ini Secara Ringkas
| # | Temuan | Angka kunci | Sumber |
| 1 | Mayoritas memilih menguntungkan lima orang | 222 dari 321 (69,2%) | Vurgun dkk. (2026) |
| 2 | Refleksi di Tahap 1 memprediksi pilihan 17 bulan kemudian | OR 1,19 per jawaban benar CPT | Vurgun dkk. (2026) |
| 3 | Penalaran pola dan pemikiran terbuka lebih kuat dari CPT | OR 1,73 dan 1,41 | Vurgun dkk. (2026) |
| 4 | Kuesioner OUS tidak memprediksi perilaku | r = −0,08 dan −0,05 | Vurgun dkk. (2026) |
| 5 | Alasan utilitarian satu-satunya yang berkorelasi positif | r = 0,24 | Vurgun dkk. (2026) |
| 6 | Refleksi memprediksi lebih kuat pada nonpenganut | OR interaksi 0,95 (eksploratif) | Vurgun dkk. (2026) |
| 7 | Pilihan utilitarian butuh waktu lebih lama | p = 0,003 | Vurgun dkk. (2026) |
Dilema Hipotetis versus Dilema Uang Nyata
Ringkasan perbedaan kedua pendekatan membantu Anda menilai kapan hasil studi layak diperbandingkan.
| Aspek | Dilema trolley hipotetis | Dilema uang nyata (studi ini) |
| Konsekuensi | Imajiner | Pembayaran sungguhan |
| Kerugian | Kematian atau cedera | Kehilangan $1 |
| Keterkaitan dengan psikopati | Pernah dilaporkan pada pilihan “mendorong” | Tidak ada pada versi Bostyn dkk. (2019) |
| Risiko tuntutan demand | Tinggi, peserta tahu ini tentang moral | Lebih rendah, ada jeda 17 bulan dari tes |
| Keterbatasan | Sulit digeneralisasi ke perilaku | Hanya satu dilema, taruhan kecil |
Satu hal yang perlu dicatat: dilema uang tidak menggambarkan perbedaan personal-impersonal seperti dilema jembatan. Para penulis menegaskan hal ini sendiri.
Batasan Studi yang Perlu Anda Ingat
Para penulis menyebut beberapa keterbatasan secara terbuka. Poin-poin berikut berasal dari bagian pembahasan makalah.
- Korelasional. Studi ini tidak membuktikan bahwa refleksi menyebabkan pilihan utilitarian.
- Satu dilema. Satu tugas uang hanya menangkap satu sisi dari utilitarianisme.
- Alasan diukur dengan satu butir. Ini membatasi kekuatan psikometrik analisis alasan.
- Religiositas satu butir. Bentuk religiositas lain bisa berhubungan berbeda dengan dimensi utilitarian.
- Sampel Amerika. Hasilnya belum tentu berlaku di budaya lain.
- Jeda 17 bulan. Peristiwa hidup selama jeda mungkin memengaruhi keputusan, meski ada bukti stabilitas gaya berpikir.
- Taruhan satu dolar. Hasilnya belum tentu sama pada jumlah besar.
Kritik teoretis juga ada. Bago dan De Neys (2019) menemukan bahwa respons intuitif dalam dilema moral tidak selalu berbasis aturan, dan pilihan utilitarian tidak selalu butuh koreksi atas intuisi.
Cara Membaca Klaim “Studi Menunjukkan” tentang Moralitas
Angka 69 persen mudah viral. Berikut pemeriksaan singkat sebelum Anda membagikan atau mengutipnya.
- Cek sampelnya. Apakah representatif atau seimbang secara sengaja? Di studi ini, sampelnya diseimbangkan dan penuh seleksi.
- Cek jenis tugasnya. Jawaban hipotetis dan perilaku nyata bisa berbeda jauh.
- Cek ukuran efeknya. Efek “signifikan” belum tentu besar. OR 1,19 per soal tergolong kecil.
- Cek apakah hipotesis dipraregistrasi. Temuan agama di sini eksploratif, jadi jangan diperlakukan sama seperti uji utama.
- Cek sumber primernya. Baca makalah aslinya, bukan hanya ringkasan media.
Untuk topik tes kepribadian dan psikologi populer, prinsip yang sama berlaku. Hasil kuesioner swalaporan perlu dibaca sebagai petunjuk, bukan vonis.
Kesimpulan
Studi Vurgun dkk. (2026) memberi data langka: perilaku moral nyata yang dikaitkan dengan ukuran kognitif dari 17 bulan sebelumnya. Sekitar 69 persen peserta memilih menguntungkan lima orang. Kemampuan bernalar dan keterbukaan pikiran memprediksi pilihan itu, sedangkan kuesioner nilai utilitarian tidak.
Temuan agama menarik, tetapi masih eksploratif. Batasan sampel, satu dilema, dan taruhan kecil membuat angka 69 persen tidak bisa dijadikan gambaran umum masyarakat mana pun.
Pelajaran praktisnya sederhana. Ketika seseorang berkata ia peduli pada banyak orang, itu belum tentu tampak dalam tindakannya. Dan ketika seseorang disebut “reflektif”, tanyakan standar kebenaran apa yang ia pakai untuk berpikir.
Baca Juga Mudah Stres dan Sulit Jelaskan Perasaan, Mungkin EQ Anda Perlu Dilatih
FAQ: Studi Dilema Moral dengan Uang Nyata, 69 Persen Pilih Untungkan Banyak Orang
Apa itu studi dilema moral dengan uang nyata?
Studi dilema moral dengan uang nyata adalah eksperimen yang meniru dilema trolley, tetapi pilihannya mengubah pembayaran sungguhan. Pada studi 2026 ini, peserta memutuskan apakah satu orang kehilangan $1 agar lima orang lain masing-masing menerima $1. Sebanyak 69,2% dari 321 peserta memilih mengalihkannya.
Siapa peneliti studi ini dan di mana terbitnya?
Penulisnya Rozelin Vurgun, Ensar Acem, Fırat Seker, Burak Dogruyol, Hasan G. Bahcekapili, Ozan Isler, dan Onurcan Yilmaz. Studi terbit online 28 Oktober 2026 di Judgment and Decision Making, volume 21, artikel e30, DOI 10.1017/jdm.2026.10051. Akses terbuka dengan lisensi CC-BY.
Apakah 69 persen berarti mayoritas orang Amerika memilih begitu?
Tidak. Sampel diseleksi lewat Prolific dan diseimbangkan berdasarkan keyakinan, gender, dan status sosial ekonomi. Hanya 321 dari 1.200 peserta awal yang kembali di tahap kedua. Angka ini menggambarkan sampel studi, bukan populasi nasional.
Mengapa kuesioner utilitarianisme tidak memprediksi pilihan?
Dua dimensi Oxford Utilitarianism Scale tidak berkorelasi signifikan dengan pilihan di tugas uang (r = −0,08 dan −0,05). Para penulis menduga skala itu menangkap sikap yang diinginkan secara sosial atau kecenderungan intuitif, bukan proses utilitarian. Ini masih tafsiran, bukan kesimpulan final.
Apakah agama membuat orang kurang utilitarian?
Religiositas berkorelasi negatif dengan pilihan utilitarian (r = −0,17). Temuan yang lebih menarik: refleksi memprediksi pilihan utilitarian lebih kuat pada nonpenganut daripada penganut. Analisis ini eksploratif dan memerlukan uji langsung.
Apakah dilema uang nyata menggantikan trolley problem?
Tidak sepenuhnya. Dilema uang menghindari asosiasi dengan psikopati dan menambah realisme, tetapi tidak merekam perbedaan personal-impersonal seperti dilema jembatan. Para penulis menyarankan lebih banyak tugas bertaruhan nyata, seperti redistribusi atau permainan barang publik.
Sumber
- Vurgun, R., Acem, E., Seker, F., Dogruyol, B., Bahcekapili, H. G., Isler, O., & Yilmaz, O. (2026). Cognitive reflection predicts utilitarian behavior in the monetary moral dilemma after 17 months. Judgment and Decision Making, 21, e30.
- Yilmaz, O. (28 Oktober 2026). The Trolley Problem, but With Real Money. Psychology Today.
- JawaPos.com. Pilih Kepentingan Banyak Orang atau Hak Individu? Ini Temuan Studi Dilema Moral.
- Bostyn, D. H., Sevenhant, S., & Roets, A. (2019). Beyond physical harm: How preference for consequentialism and primary psychopathy relate to decisions on a monetary trolley dilemma. Thinking & Reasoning, 25(2), 192–206. doi.org/10.1080/13546783.2018.1497536
- Bartels, D. M., & Pizarro, D. A. (2011). The mismeasure of morals. Cognition, 121(1), 154–161. doi.org/10.1016/j.cognition.2011.05.010
- Greene, J. D., dkk. (2001). An fMRI investigation of emotional engagement in moral judgment. Science, 293(5537), 2105–2108. doi.org/10.1126/science.1062872
- Bago, B., & De Neys, W. (2019). The intuitive greater good. Journal of Experimental Psychology: General, 148(10), 1782–1801. doi.org/10.1037/xge0000533
- Studi trolley pada sampel mahasiswa Venezuela, PubMed Central PMC12901468.