0 Comments


Ringkasan: Kidulting adalah kebiasaan orang dewasa kembali menikmati hal-hal yang identik dengan masa kecil — dari mainan, kartun, sampai jajanan lama — sebagai cara melepas tekanan hidup. Riset menunjukkan aktivitas ini terhubung dengan mekanisme nostalgia yang terbukti menurunkan stres, tapi ada batas jelas antara “healing sesaat” dan menghindar dari tanggung jawab.

Apa itu Kidulting?

Kenali Fenomena Kidulting: Cara Psikologis Ampuh Redakan Stres Orang Dewasa

Kidulting adalah kebiasaan orang dewasa terlibat dalam aktivitas yang secara tradisional dianggap milik anak-anak, mulai dari mengoleksi mainan, menonton kartun, sampai jajan makanan bergaya masa kecil. Istilah ini gabungan dari “kid” dan “adult”, dan menurut catatan New Humanist, konsep serupa sebenarnya sudah ada sejak lama lewat istilah “rejuvenile” yang dipopulerkan penulis Christopher Noxon pada 2006.

Yang membedakan kidulting hari ini dengan sekadar “gagal move on dari masa kecil” adalah konteksnya. Menurut psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD, sebagaimana dikutip Tech Times, kidulting pada dasarnya adalah cara sederhana untuk kembali menyentuh aktivitas masa kecil yang terasa menenangkan — bukan tanda kemunduran mental. Kidulting umumnya dipakai sebagai bentuk pelarian sesaat dari tekanan hidup dewasa yang tinggi, menurut definisi di ensiklopedia daring Wikipedia tentang istilah “kidult”.

Mengapa Fenomena Ini Makin Terlihat di Kalangan Orang Dewasa 2026?

Kenali Fenomena Kidulting: Cara Psikologis Ampuh Redakan Stres Orang Dewasa

Tren ini bukan kebetulan. Menurut jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, lonjakan kidulting sebagian besar dipicu pandemi — saat rutinitas dan cara hiburan orang dewasa terganggu total, banyak yang kembali ke aktivitas masa kecil sebagai bentuk self-care yang paling mudah diakses. Fenomena ini kemudian dimanfaatkan industri: McDonald’s mencatat kenaikan kunjungan sebesar 37% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya setelah meluncurkan Happy Meal edisi dewasa, menurut laporan Nation’s Restaurant News yang dikutip jurnal tersebut.

Di sisi lain, tekanan hidup orang dewasa memang nyata dan terukur. Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi stres pada orang dewasa di Indonesia mencapai sekitar 20 juta jiwa atau 9,8% dari total penduduk. Gambaran global juga senada: laporan Global Emotions 2025 dari Gallup World Poll mencatat 15% penduduk dewasa Indonesia mengaku mengalami stres di sebagian besar hari sebelumnya — angka terendah kedua se-ASEAN setelah Vietnam. Namun, hasil ini perlu dibaca berdampingan dengan data lain: 2025 Global Emotions Report yang dirilis CEOWORLD Magazine justru menempatkan skor tekanan hidup Indonesia di peringkat ke-7 tertinggi se-ASEAN (skor 51,64 dari skala 0-100, semakin rendah skor berarti semakin tinggi tekanan yang dirasakan). Perbedaan ini wajar karena kedua survei mengukur dimensi berbeda — Gallup berfokus pada pengalaman emosi stres harian, sementara CEOWORLD menggabungkan empat kategori (pekerjaan, keuangan, sosial-keluarga, kesehatan-keamanan) — sehingga keduanya tidak boleh disamakan begitu saja sebagai “peringkat stres nasional” yang tunggal.

Yang jelas, kombinasi tekanan ekonomi, pekerjaan, dan pergeseran tonggak hidup (menikah lebih lambat, menunda punya anak) membuat banyak orang dewasa mencari jalan pintas yang murah dan cepat untuk merasa lega — dan kidulting mengisi kebutuhan itu.

Apa Kata Riset Psikologi tentang Kidulting dan Redanya Stres?

Inti dari kidulting sebenarnya adalah mekanisme nostalgia, bukan sekadar “main-main”. Menurut American Psychological Association, saat seseorang mengenang kembali kenangan menyenangkan, otak melepaskan senyawa yang memicu perasaan positif sehingga membantu menurunkan stres dan kecemasan. APA juga mencatat nostalgia berperan menegaskan rasa memiliki secara sosial dan mengurangi rasa kesepian — dua hal yang relevan bagi orang dewasa yang merasa terasing di tengah rutinitas kerja.

Temuan ini didukung riset lain. Tinjauan yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality (Juhl, Routledge, Arndt, Sedikides & Wildschut) menyimpulkan nostalgia membantu individu menghadapi ancaman eksistensial dan memperkuat rasa makna hidup, khususnya pada mereka yang skor “meaning in life”-nya rendah. Bahkan efeknya bukan cuma di ranah emosi: penelitian yang diterbitkan lewat NCBI PMC menemukan nostalgia dapat menurunkan persepsi intensitas nyeri fisik pada partisipan dengan nyeri kronis, menunjukkan nostalgia bekerja sebagai sumber daya psikologis yang cukup kuat.

Sisi bermainnya sendiri juga punya dasar riset. Studi yang dipublikasikan di NCBI PMC tentang pengaruh bermain pada “emerging adulthood” menemukan aktivitas bermain berkaitan dengan resiliensi psikologis lewat mediasi kecerdasan emosional — meski studi ini juga mencatat riset soal manfaat bermain pada orang dewasa masih tergolong minim dibanding riset pada anak-anak.

Perlu digarisbawahi: nostalgia tidak selalu berdampak positif untuk semua orang. Sebuah studi di European Journal of Social Psychology, sebagaimana dirangkum UF Health, menemukan orang dengan kecenderungan “strong worry habit” justru bisa mengalami gejala kecemasan dan depresi yang meningkat setelah terpapar stimulus nostalgia, dibanding kelompok kontrol dengan kecenderungan serupa. Artinya, kidulting bukan solusi universal — efeknya bergantung pada pola pikir dasar orang yang melakukannya.

Cara Memakai Kidulting sebagai Teknik Psikologis Redakan Stres — Langkah Praktis

Kenali Fenomena Kidulting: Cara Psikologis Ampuh Redakan Stres Orang Dewasa

Berikut cara mempraktikkan kidulting secara sadar, bukan sekadar pelarian tanpa arah:

  1. Kenali pemicu stres spesifik dulu, bukan langsung “healing”. Sebelum menonton kartun lama atau membongkar koleksi mainan, kenali dulu sumber tekanannya — pekerjaan, keuangan, atau relasi. Ini mencegah kidulting jadi bentuk penghindaran murni.
  2. Pilih aktivitas nostalgia yang punya makna personal, bukan yang sedang viral. Riset APA menekankan efek positif nostalgia muncul dari kenangan yang bermakna secara pribadi, bukan sekadar ikut tren yang sedang ramai di media sosial.
  3. Batasi waktu dan jadikan pelengkap, bukan pengganti, penyelesaian masalah. Gunakan sesi kidulting sebagai jeda 15-30 menit untuk menurunkan tekanan emosi, lalu kembali menghadapi sumber stres dengan kepala lebih tenang — bukan sebagai cara menunda tanggung jawab tanpa batas.
  4. Padukan dengan refleksi sosial, bukan isolasi. Karena nostalgia terbukti memperkuat rasa keterhubungan sosial menurut riset APA, lakukan aktivitas ini bersama teman atau keluarga yang berbagi kenangan yang sama — misalnya main board game lama bersama, bukan sendirian di kamar.
  5. Perhatikan reaksi diri sendiri setelahnya. Bila justru muncul rasa cemas atau sedih berlebihan usai bernostalgia — sesuai temuan European Journal of Social Psychology soal kelompok “strong worry habit” — hentikan pola ini dan pertimbangkan cara mengelola stres yang lain, misalnya lewat teknik self-compassion untuk membangun karakter yang lebih kuat.

Kapan Kidulting Berhenti Jadi Solusi dan Mulai Jadi Masalah?

Kidulting yang sehat berbeda dari pola menghindar jangka panjang. Konsep terkait seperti “Peter Pan syndrome” atau puer aeternus, sebagaimana dicatat Wikipedia, justru menggambarkan individu yang menolak tanggung jawab dan tantangan orang dewasa secara terus-menerus, bukan sekadar sesekali bernostalgia. Tandanya biasanya terlihat saat kidulting mulai menggeser kewajiban penting — telat bayar tagihan karena keasyikan koleksi mainan, atau menghindari percakapan sulit dengan pasangan lewat menonton kartun berjam-jam setiap hari.

Kalau pola ini terasa familier, langkah yang lebih tepat adalah membangun mental yang lebih tangguh menghadapi sumber tekanan itu sendiri. Bisa dimulai dari cara mengenali ciri orang bermental kuat sebagai acuan, atau mempelajari cara naik level di tengah lingkungan yang serba negatif supaya tekanan eksternal tidak terus memicu pelarian.

Kidulting vs Teknik Psikologis Lain untuk Redakan Stres Dewasa

Kenali Fenomena Kidulting: Cara Psikologis Ampuh Redakan Stres Orang Dewasa
TeknikCara KerjaCocok UntukBatasan
Kidulting (nostalgia + bermain)Memicu pelepasan senyawa pemicu rasa senang lewat kenangan positif (APA)Stres harian ringan-sedang, kelelahan emosiBisa memperparah kecemasan pada individu dengan “strong worry habit” (European Journal of Social Psychology)
Self-compassionMengurangi kritik diri berlebihan saat menghadapi kegagalanStres akibat tekanan performa/pekerjaanButuh latihan konsisten, bukan solusi instan
Mengatasi overthinkingMemutus siklus pikiran berulang yang memicu kecemasanStres yang dipicu kekhawatiran berlebihan soal masa depanPerlu kesadaran diri untuk mengenali pola pikirnya lebih dulu
Konsultasi profesional (psikolog/psikiater)Penanganan terstruktur sesuai akar masalahStres kronis, gejala mengganggu fungsi harianButuh waktu dan akses layanan kesehatan mental

Bila overthinking justru jadi pemicu stres yang lebih dominan dibanding tekanan eksternal, pola ini juga umum terjadi pada generasi muda — bisa dipelajari lebih lanjut lewat 5 cara mengatasi overthinking bagi Gen Z. Fenomena psikologis viral semacam ini memang bermunculan silih berganti di media sosial, mirip dengan pola yang pernah dibahas dalam analisis fenomena trauma “Medusa” di TikTok.

FAQ — Fenomena Kidulting dan Stres Orang Dewasa

Apa itu kidulting?

Kidulting adalah kebiasaan orang dewasa terlibat dalam aktivitas yang identik dengan masa kecil — mengoleksi mainan, menonton kartun, atau menikmati jajanan lama — sebagai bentuk pelepasan dari tekanan hidup dewasa, menurut definisi Wikipedia dan liputan Tech Times.

Apakah kidulting termasuk gangguan psikologis?

Tidak selalu. Menurut psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD, kidulting pada dasarnya cara sederhana kembali menikmati hal yang menenangkan. Ia baru mengarah ke pola bermasalah bila menggeser tanggung jawab penting secara terus-menerus, mirip pola yang digambarkan dalam konsep “Peter Pan syndrome”.

Bagaimana cara kidulting membantu meredakan stres secara psikologis?

Mekanismenya lewat nostalgia. Menurut American Psychological Association, mengenang kenangan menyenangkan memicu pelepasan senyawa pemicu rasa senang di otak, menurunkan stres dan kecemasan, serta memperkuat rasa keterhubungan sosial.

Apakah kidulting cocok untuk semua orang?

Belum tentu. Studi di European Journal of Social Psychology menemukan orang dengan kecenderungan kekhawatiran kuat justru bisa merasa lebih cemas setelah terpapar stimulus nostalgia. Bagi kelompok ini, teknik psikologis lain seperti self-compassion atau konsultasi profesional lebih disarankan.


Related Posts